"Masa kanak-kanak begitu indah untuk dikenang".
Begitu orang dewasa bilang. Mereka yang telah melewati perjalanan hidup yang panjang pasti akan merindukan masa-masa dimana mereka begitu membutuhkan orang disekitar mereka yang sangat mencintai dia.
Ingatan tentang masa TK seperti hal-hal yang lumrah bagi anak kecil yang tak mau ditinggal Ibu saat jam sekolah, berebut mainan dengan kawan hingga terjadi aksi cubit-cubitan khas anak kecil yang terkadang membuat salah satunya menangis (bisa jadi anak yg menangis itu adalah kita,, hahaha), hingga tragedi ngompol pertama di kelas TK yang membuat Ibu Guru kalang kabut (itu bukan saya).
Masa Sekolah Dasar, masa transisi belajar mandiri. Tak ada Ibu yang menunggu di luar kelas dengan setia, tak ada aksi rebutan apalagi gigit-gigitan, tak ada tragedi celana basah lagi. Mulai belajar beradaptasi dengan kawan, mandiri untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah (tak perlu membuat Ibu risau tentang kemampuan belajar putrinya) dan yang pasti belajar berani. Salah satunya berani pulang sekolah sendiri, tanpa di jemput Ibu.
Satu hal yang selalu teringat kuat dalam bank ingatan ku dimana saat SD, Bapak-Ibu ku selalu memberikan ku hadiah bila aku bisa menjadi juara kelas. Hadiah nya pun bukan barang-barang mahal seperti jaman anak sekarang yang minta hadiah PSP, notebook apalagi minta motor, alamak mahal nian ^_^. Saat itu sekitar tahun 1994-an di Semarang baru booming pasar swalayan salah satunya Matahari yang letaknya di pusat kota di Simpang Lima (tahu kan? minimal pasti pernah dengar namanya). Buat kami sekedar jalan-jalan di mall dan belanja di Supermarket punya kebahagiaan tersendiri. Mungkin kalo di jaman sekarang belanja di mall adalah hal yang biasa, terlalu biasa malahan. Tapi tidak buat kami dahulu. Ibu membelikan semua permintaanku yang kebanyakan berbau makanan (maklum suka ngemil ^_^). Pernah juga kami pergi ke Sanggar Budaya Ngesti Pandawa untuk melihat pertunjukan wayang orang. Kami begitu menikmati pertunjukan dari para pemain yang berkostum khas Jawa Tengah dengan setting panggung yang indah. Kakak perempuanku pun ikut gembira. Masih segar dalam ingatanku, saat menonton pertunjukan aku sempat merengek minta dibelikan ice cream di toko seberang. Dan selanjutnya aku pun terdiam menikmati pertunjukan dengan sebuah ice cream lezat di genggaman ku. Thank you Daddy ^_^. Tapi sayangnya gedung kesenian yang berada di jalan Pemuda Semarang (yang letaknya satu deret dengan Gedung Balaikota) itu telah runtuh rata dengan tanah, tak berbekas dan digantikan dengan gedung bertingkat pusat perbelanjaan baru. Tiap kali pulang ke Semarang dan lewat di depannya (walaupun semua sudah tak sama), aku merasa seperti kembali ke masa dahulu mengingat almarhumah Ibu yang setia menemani dan menyayangi ku hingga aku siap memasuki masa perkuliahan di tahun 2002.
Kegemaran kami lainnya adalah kami suka menikmati liburan dengan menonton bioskop di Bioskop Gajahmada yang letaknya masih di sekitar Simpang Lima (aku tidak tahu apakah gedung bioskop kuno itu masih ada atau tidak). Film yang masih aku ingat waktu itu adalah film kolosal Tutur Tinular dan film horor dengan pemain Suzana. Harap maklum jaman dulu belum ada Dian Sastro seperti di AADC, Laskar pelangi, apalagi Harry Potter atau pun film sejenisnya. Saat itu masih masa kejayaan Warkop DKI yang penuh tawa.
Ini adalah Gedung Kesenian GRIS yang pernah dimiliki kota Semarang
Itu ceritaku saat menikmati masa anak-anak terindah dalam perjalanan hidupku.
Apa ceritamu??
My Parents are My Heroes ^_^
Jumat, 11 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar